Padang — Arah kebijakan keselamatan berlalu lintas di Sumatera Barat memasuki fase baru. Kapolda Sumbar Irjen Pol. Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, mulai mematangkan langkah besar lewat persiapan Operasi Keselamatan Singgalang 2026, sebuah operasi yang tidak lagi diposisikan sebatas rutinitas tahunan, melainkan gerakan terstruktur untuk menyelamatkan nyawa di jalan raya.
Di bawah komando Gatot Tri Suryanta, operasi ini dirancang dengan pendekatan yang lebih menyentuh akar persoalan. Ia menilai kecelakaan lalu lintas bukan sekadar soal pelanggaran, tetapi soal budaya, kesadaran, dan kebiasaan masyarakat dalam berkendara. Karena itu, strategi yang dibangun menitikberatkan pada pencegahan sejak dini, edukasi masif, serta penegakan hukum yang tetap tegas namun berimbang.
Peran kunci di lapangan dipercayakan kepada Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, Kombes Pol. H.M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H. Sosok ini diproyeksikan menjadi ujung tombak implementasi teknis operasi. Pengalaman dan pendekatan humanis yang melekat pada dirinya dinilai selaras dengan arah kebijakan Kapolda: polisi hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi menuntun masyarakat agar lebih sadar keselamatan.
Dalam skema yang disusun, kehadiran personel lalu lintas tidak hanya terlihat saat penindakan, tetapi juga dalam pola pendekatan persuasif di ruang publik. Jalan raya dipandang sebagai ruang interaksi sosial yang membutuhkan kehadiran aparat secara ramah, komunikatif, dan memberi rasa aman. Penindakan tetap berjalan, terutama terhadap pelanggaran berisiko tinggi, namun dikawal dengan prinsip profesional dan terukur.
Reza Chairul Akbar menyiapkan jajarannya untuk bergerak dengan pola kerja yang lebih adaptif terhadap karakter wilayah Sumatera Barat. Jalur perkotaan yang padat, kawasan wisata, hingga rute pegunungan yang ekstrem menjadi perhatian tersendiri. Setiap titik dinilai memiliki risiko berbeda sehingga pola pengawasan, pengaturan, hingga edukasi disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Fokus pelanggaran prioritas dalam operasi ini mencakup penggunaan helm standar, sabuk pengaman, kelengkapan kendaraan, serta perilaku berkendara yang berpotensi memicu kecelakaan fatal. Namun di balik itu, ada misi lebih besar: membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan karena takut ditilang, melainkan karena peduli pada diri sendiri dan orang lain.
Pendekatan sosialisasi juga diperluas. Polda Sumbar melalui Direktorat Lalu Lintas akan menggandeng media, komunitas otomotif, pelajar, hingga institusi pendidikan untuk menyebarkan pesan keselamatan. Edukasi diposisikan sebagai fondasi jangka panjang, sehingga budaya tertib lalu lintas dapat tumbuh berkelanjutan, tidak berhenti ketika operasi selesai.
Kepemimpinan Gatot Tri Suryanta terlihat menekankan keseimbangan antara ketegasan dan empati. Ia mendorong seluruh personel agar bertindak berintegritas, transparan, serta menjunjung keadilan. Semangat Presisi diterjemahkan dalam tindakan nyata di jalan raya: cepat merespons, tepat sasaran, dan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
Sinergi antara Kapolda dan Dirlantas ini menjadi penopang utama keberhasilan Ops Keselamatan Singgalang 2026. Bukan hanya demi menekan angka kecelakaan, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa kehadiran polisi di jalan benar-benar untuk melindungi. Di tengah dinamika mobilitas masyarakat yang terus meningkat, langkah ini menjadi pesan kuat bahwa keselamatan adalah prioritas, bukan slogan.
Pada akhirnya, operasi ini membawa harapan lahirnya kebiasaan baru di Ranah Minang: berkendara dengan disiplin sebagai kebutuhan, bukan keterpaksaan. Ketika kesadaran tumbuh, jalan raya bukan lagi ruang ancaman, melainkan ruang aman bagi semua pengguna.
EYS
